JURnal Celebes

adalah sebuah organisasi dalam bentuk asosiasi yang terdiri dari wartawan dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) Sulawesi Selatan.

dibentuk pada 12 September 2002 di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai forum independen yang mendorong penguatan masyarakat sipil dan kampanye keadilan sumber daya alam.

Visi

terwujudnya masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam mendorong kebijakan dan pengelolaan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Misi

mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem sebagai basis ekonomi.

Minim, Pengetahuan Masyarakat Desa Tentang Fungsi Karst

Jumat, 26 Mei 2017 00:00 Written by  Sharif
Diskusi seri ke-3 tentang perlidungan dan penyelamatan karst Pangkep yang dilaksanakan JURnaL Celebes dan Burung Indonesia, Rabu (24/5/17) di Warkop 722 Pangkep. Diskusi seri ke-3 tentang perlidungan dan penyelamatan karst Pangkep yang dilaksanakan JURnaL Celebes dan Burung Indonesia, Rabu (24/5/17) di Warkop 722 Pangkep. mus

JURnaL Celebes. Pada seri diskusi tentang perlindungan dan penyelamatan karst, Rabu (24/5/2017) di Warkop 722 Pangkep, peserta diskusi menyimpulkan bahwa mayoritas masyarakat desa di Pangkep belum memahami fungsi kawasan karst. Ada warga desa yang menjual kawasan karst dekat kebunnya kepada pihak lain. Karena itu, diskusi yang dihelat JURnaL Celebes dan Burung Indonesia ini merekomenfdasikan perluanya sosialisasi fungsi karst dan peraturan yang melindungi kawasan karst tingkat desa.

 

''Pengetahuan saya tentang karts masih minim. Saya tidak mengetahui model pengelolaan karts khususnya di Pangkep. Saya juga melihat persoalan tambang yang membuat masyarakat resah. Tidak jelas batas-batas wilayah mana untuk masyarakat mana untuk tambang. Masyarakat takut terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang menjadi beking  perusahaan tambang. Di kampung saya sudha mulai masuk tambang marmer,'' jelas Misbach, peserta diskusi dari  Bantimurung.

Menurut Misbah, di desanya ada peraturan  desa yang dibuat tahun 2016, yang mengatur larangan tebang pohon meskipun di halaman rumah. Jjika ada masyarakat yang menebang pohon di halaman rumahnya, maka mereka harus membayar Rp 20.000 yang dimasukkan ke kas desa.

Regulasi seperti ini, menurut peserta diskusi, juga harus dibuat juga untuk perlindungan dan pelestarian kawasan karst. Namun halitu bisa dilakukan ketika fungsi karst itu dipahami memiliki menfaat yang penting, seperti pohon bagi pelsetarian lingkungan hidup.

Menyinggung tentang kepedialian terhadap funsgi karst, peserta diskusi yang  lainnya menyatakan bahwa hal ini terkait dengan pengetahuan dan pemehaman. Jangan masyarakat, mahasiswa dan pemuda masih sebatas penikmat karts dan belum memilki kepedulian terhadap kawasan ekologis ini. 

Diskusi yang difasiitasi oleh Sardi Rasak dari AMAN Sulawesi Selatan ini lalu memandang penting bagaimana sosialisasi fungsi karst kepada masyarakat, serta membuat regulasi. ''Kalau kita mampu mempengaruhi cara berpikir pemerintah bahwa kawan kars dapat meningkatan ekonomi masyarakat selain pertambangan maka ini akan menjadi menarik dan kenapa tidak kalau persoalan kars menjadi alat kampanye,'' kata Sardi . 

Tujuan dari diskusi seri ketiga ini adalah untuk menghimpun masalah-masalah berupa tantangan dan peluang di desa dan peran masyarakat desa atau para pihak dalam pengelolaan dan pelestarian kawasan karst di Pangkep. Menginventarisasi masukan berupa gagasan solusif dari masyarakat desa dan parapihak untuk pengelolaan dan pelestarian keragaman hayati di kawasan Karst di Kabupaten Pangkep. Input ini nantinya menjadi bahan untuk penyusunan kertas kebijakan (policy brief) yang direkomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Pangkep.

Last modified on Rabu, 21 Juni 2017 16:51
Read 53 times
Rate this item
(0 votes)

Komentar

Foto Kegiatan