JURnal Celebes

adalah sebuah organisasi dalam bentuk asosiasi yang terdiri dari wartawan dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) Sulawesi Selatan.

dibentuk pada 12 September 2002 di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai forum independen yang mendorong penguatan masyarakat sipil dan kampanye keadilan sumber daya alam.

Visi

terwujudnya masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam mendorong kebijakan dan pengelolaan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Misi

mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem sebagai basis ekonomi.

Press Release: Peranan Desa dalam Perlindungan Kawasan Karst di Pangkep

Senin, 22 Mei 2017 00:00 Written by  admin

Dalam diskusi serial Maret 2017 lalu, disimpulkan bahwa pengembangan ekowisata menjadi salah satu alternatif untuk melindungi dan menyelamatkan kawasan karst di Kabupaten Pangkep. Ekowisata yang dikembangkan bertumpu pada peran masyarakat sekitar kawasan karst. Karena itu, pemberdayaan masyarakat desa-desa di sekitar kawasan menjadi penentu dalam mengembangkan pola  yang memberikan peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus melindungi dan melestarikan keragaman hayati di kawasan karst Pangkep.

Dalam diskusi sebagai rangkaian kegiatan yang dilaksanakan JURnaL Celebes dan Burung Indonesia ini, mencoba untuk menggali problem berupa tantangan/hambatan dan peluang desa di sekitar karst Pangkep, dalam upaya perlindungan dan pelestarian keragaman hayati. Bila selama ini kawasan karst lebih dieksplorasi dan eksploitasi sebagai potensi tambang, yang meski memberikan nilai ekonomi dan pendapatan daerah, tetapi tidak ada jamin akan kelestarian kawasan perbukitan kapur ini. Sementara kawasan karst merupakan potensi strategis menjadi sumber penghidupan karena menjadi arena menyimpan air, rumah bagi ekosistem keragaman hayati, sumber ilmu pengetahuan dan fungsi ekologis lainnya.

Karena itu, untuk menjaga kelangsungan fungsi ekologis, ekonomi berkelanjutan sebagai jaminan penghidupan di kawasan ini, peran masyarakat, terutama masyarakat desa menjadi salah satu faktor penentu. Ekowisata yang ideal adalah pola pengelolaan yang berbasis masyarakat. Ekowisata yang tidak semata memberikan keuntungan pemilik modal, tetapi memberdayakan masyarakat sebagai jaminan kesinambungan dan kelestarian.

Dalam diskusi ini seri ke-3 ini, Rabu 24 Mei 2017 di Warkop 722 Pangkep, akan difasilitasi oleh Sardi Razak, Ketua Badan Pengurus Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Selatan. 

Tujuan dari diskusi seri ketiga ini adalah untuk menghimpun masalah-masalah berupa tantangan dan peluang di desa dan peran masyarakat desa atau para pihak dalam pengelolaan dan pelestarian kawasan karst di Pangkep. Menginventarisasi masukan berupa gagasan solusif dari masyarakat desa dan parapihak untuk pengelolaan dan pelestarian keragaman hayati di kawasan Karst di Kabupaten Pangkep. Input ini nantinya menjadi bahan untuk penyusunan kertas kebijakan (policy brief) yang direkomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Pangkep.

Kesinambungan Kawasan Karst

Kawasan Karst yang membentang di Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Maros menyimpan potensi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang menjamin kelanjutan sumber penghidupan di kawasan ini. Perencanaan pembangunan yang ekspansif dan eksploitatif mengancam punahnya ekosistem keanekaragaman hayati di Maros dan Pangkep. Solusi melindungi dan melestarikan potensi sumber hayati penghidupan ini tidak boleh diabaikan, bila tidak ingin potensi ii ke depan hanya tinggal nama.

Sebagai upaya penyelamatan dan pelestarian kawasan karst Maros-Pangkep, JURnal Celebes bekerjasama dengan Burung Indonesia, Pemerintah Daerah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) yang didukung Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) melaksanakan program pelestarian keanekaragaman (keragaman) hayati di kawasan karst di Maros dan Pangkep. Bantuan lewat hibah pendanaan skala kecil ini untuk membantu pemerintah daerah dalam mengelola kawasan strategis ini untuk memberikan manfaat secara berkesinambungan.

Program ini akan memberikan meningkatkan kapasitas pemerintah daerah di Maros dan Pengkep, khususnya SKPD terkait serta stakeholder, untuk bersama-sama merencanakan pembangunan yang memperhitungkan pelestarian keragaman hayati di kawasan karst Maros dan Pangkep. Program yang mulai berlangsung hingga Juli 2017 ini memberikan fokus pada peningkatan kapasitas SKPD terkait dengan kegiatan berupa diskusi dan pelatihan, serta merancang input kepada kebijakan-kebijakan pembangunan di Maros dan Pangkep untuk mendukung pelestarian keragaman hayati di Maros dan Pangkep.

Mengapa mesti melestarikan keragaman hayati di kawasan karst Maros dan Pangkep? Sebab kawasan ini memiliki potensi luar biasa. Kawasan karst terindah kedua di dunia, dengan memiliki 709 jenis tumbuhan, 730 jenis satwa liar, 268 gua, 125 jenis kupu-kupu. Dengan potensi ini, kawasan karst Pangkep dan Maros menjadi areal penyimpanan dan penyuplai air untuk tiga wilayah yakni Pangkep, Maros dan Makassar. 

Program ini meyakini bahwa salah satu persoalan mendasar dalam pengelolaan dan perlindungan kawasan karst Maros-Pangkep berkaitan keterbatasan dan perspektif konservasi serta sumber daya yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Maros dan Kabupaten. Untuk itu, diperlukan pemahaman yang menyeluruh mengenai status, keragaman hayati dan ekosistem karst, peluang serta tantangan yang dihadapi, dan model kelembagaan yang  ideal untuk dijalankan ke depan.

Untuk itu, ada dua sasaran atau output yang ingin dicapai dalam program yakni meningkatnya kapasitas  pemerintah daerah, dalam hal ini SKPD terkait, dalam pengelolaan dan perlindungan ekosistem serta keanekaragaman hayati kawasan Bantimurung-Bulusaraung. Kedua, pemerintah daerah mendukung konservasi karst Pangkep dan Maros melalui penyusunan kebijakan dan program yang mengarusutamakan pelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Untuk itu, program ini membantu SKPD terkait, misalnya memasukkan aspek konservasi pelestarian keragaman hayati kawasan karst Maros-Pangkep pada RKPD Dinas Kehutanan. Program ini juga memfasilitasi perumusan naskah policy brief tentang pelestarian keragaman hayati kawasan karst Maros-Pangkep.

Salah satu kegiatan program ini adalah Seri Diskusi untuk menghimpun pendapat dan input dengan berbagai pihak yang nantinya menjadi acuan yang nantinya akan menjadi bahan kajian untuk merumuskan strategi pelestarian keanekaragaman hayati di Pangkep.*

Kontak Person yang bisa dihubungi: Aniswati Syahrir (Program Officer JURnaL Celebes-08114639324), Badauni AP (Fasilitator Pelaksana Kegiatan Program JURnaL Celebes-Burung Indonesia-081355984031), Mustam Arif  (Direktur JURnaL Celebes – 081241516663)

 

File dokumen Press Release ini juga dapat didownload pada Download attachments di ujung bawah halaman ini.

 

Last modified on Selasa, 23 Mei 2017 11:09
Read 265 times
Rate this item
(0 votes)

Komentar

Foto Kegiatan